IRONIS ||

Ironis lagi, 
Nampak nya kita amat terlalu kalah, hingga salah dalam ulah kita membayangi hak akan sebuah ketetapan memberi satu selubung penetapan. Haha. Lucu kalo kata saya mh. 

Tiba saja menjadi pernyataan tanpa pertanyaan. Menjadi penjajaran bagai belum pernah terpaparkan.
Dibiarkan. 
Badai gerimis membasahi pohon pohon, menenggelamkan rerumputan taman, mengguyur bunga bunga hingga mati semerbak nya. 
membiurkan makna, membisukan arah tak kunjung terjumpanya. 
Di pohon itu, 
biar waktu yang menjanjikan akan sebuah perwujudan ataulah pelepasan, lalu peninggalan. 
permulaan pun tlah diusaikan,
tak perlu diuraikan. 
Di jalanan panjang itu, 
Satu pelangkahan biar menjatuhkan, 
Satu perjalanan tibalah mengartikan.
Satu dekade menjadi kisah atas hidupnya. 
Barangkali perihal hujan itu, 
Barangkali perihal kemarau itu, 
Atau lah perihal cuaca tak menentu. 
Kita gegabah membayangi nya ia takkan pernah mendatangi. 
Belum sempat disiapi,
belum sempat disenyapi, 
Yang katnya singgah, tapi entah apakah itu rumah?
Salah, kita akan peneduhan nya itu, pelingkupan ragu, menjadi lebur, Dihempaskan nya kembali. 
Lalu, mati.

Ohh jangan dlu! 

Aku teringat kata G.M.
Pada pohon pohon tropis
Maka pagi tak jadi pagi
Hari tak jadi hari
Hanya angin dan orkes 
Saling menggores, 
... 
 Tetapi, Lalu hujan akan turun/ amis. Maka yang sebentar lebur pun mulai terpisah kembali, dan akhirnya seseorang menutup kelambu, selesai.

 ___

Kita belum menemu, 
di penghujung waktu,
dalam janji
kita masih mencari. 
Jangan dahulu ragu.
Ayolah. Kita tetap merindu.
Satu dekade amatlah jauh ditempuh.
Lalu telah itu, mari pecahkan! 

Komentar