DUA


Semakin dewasa kita akan harus tau bahwa dunia ini menyimpan begitu banyak rahasia dan beribu keanehan tak kasat mata di dalamnya. Pandangan mata kita kan terbelalak sesaat kita kan tau tentang apa isi dalam peti itu. Selama ini kita mengikuti arah mata angin, memberi tapak jejak pada tanah basah kering, tuk sampai pada apa yang selama ini kita cari. Kurasa peta ini salah? Karena yang ku tahu harta karun tak tersimpan di dataran rendah setapak dengan kedua telapak kaki kita menginjak. Tidak pula ia (nyata) melayang di dataran tinggi hingga harus ber jinjit jinjit tuk bisa meraihnya.

Dimana ia berada?
Di atas awan, terkait di bintang atau terduduk di atas bulan kah kini ia ada?
Berada di tangan siapa ku bisa bawanya?
Ku pun berbicara pada dirinya diriku;
Wahai akal yang kelelahan,
wahai jiwa yang keletihan,
Wahai diri yang terus terbangunkan,
Tidurlah. Istirahatlah.
Tutupkan semua mata dalam dhohir dan batinmu.
Barangkali dalam mimpi aku 'menemukan'. 

Rasakan kedamaian ketenangan yang sebenarnya, yang tidak menipu dan melelahkan apabila mengejar yang lain harus dengan berlarian tuk mencari kebahagiaannya tersendiri.
Engkau harus tetap dalam posisi menutupkan semua mata, sekejap saja. Kembalikan dirimu pada asal fitrahmu. Apabila kau terbangun tersadarkan itu lebih baik bagimu untuk tetap terjaga di dalamnya.







Kamis, 07 Maret 2024

Komentar