DEMI WAKTU

Dan demi waktu, 

Kita. 


Anggap saja memang

kebetulan langkah secara sengaja-sengaja di hidup

lalu di pulangkan, 

Kembali. 


Tapak tapak nya

meng-Abadi.

Pantang luluh lantahkan.

Tetap saja di suarakan! 


Katanya,

biar.. 

Menjadi jawab usah

tanyakan.


Heran, bumi ini milik

siapa sebenarnya? 


Aku iri kepada penyair

penyair disana, 

Mereka menggenggam

dunia nya. 

Mudah saja bagi mereka

hidup dan mati lalu

terbangun lagi,

sekian detik..

Sama dengan

sekian masa ditangannya. 


Aku hanya tersadar

bahawa aku hanya ada

satu dua kemiripan dengan

mereka mereka, 


Aku sedikit tenang. 


Setidaknya,

Aku kan khabarkan

pada semua, 

Aku pun mempunyai

kekasih. 

Dan aku mempunyai

puisi. 


Walau saja, 

ku buat kita abadi. 

Tapi sisanya ku buang

ke langit tertinggi.


Tak ada dibumi!

Tak ada yang abadi.


Hanya kata-kita.

Satu windu lagi,

kan membuatnya fana.

Siapi diri. 



Bandung, 

Jum, 07/02/24

Komentar