SEBUTIR DEBU




Roda waktu terus saja berputar, dari melindas ketabahan hingga menindas sebuah keputusan. Mau tidak mau jawaban harus tersuguhkan. Di atas hamparan jiwa yang tidak mempunyai ketidakberdayaan.

Dan antara bodoh terbodohi, saya hanya setitik manusia tak mau berkutik. Karena Tanpa mau disadari ternyata "saya begitu bodohnya!".


Tak ada yang istimewa tak ada pun banyak makna, tidak banyak suka tidak adapun banyak yang ada. Hadirnya saya disini, hanya mengisi menemani bayang saya sendiri. Apabila juga harus dikatakan, ini lah secuil candaan hiburan dari 'untukku'. Dan bukankah semua yang ada di janaloka ini pun sama? Candaan belaka? Lengkara tuk amerta?. Saya hanya ingin ikut bermain saja, sebagaimana manusia lainnya. Saya juga manusia. Tapi barangkali memang 'sebutir debu'.

;
Sungguh gila tapi nyata 'kita' begitu angkuhnya. "Dunia hanya mengikuti, kitalah yang memegang kendali" katanya. Dirinya seakan 'akan abadi'. Abadi nya seakan akan ingin dirantai. Rantai nya seakan tak ingin putus. Putusnya seakan ingin hilang. Hilang nya seakan ingin sirna. Dan sirna nya seakan ingin tak pernah ada.
"Begitu bodohnya! Kita."

Waktu kian membilang, rasa kian membias, jiwa dan raga kian rapuh. Memekik lelah tak guna, membiar asa berjalan mundur.
Juga memberikan buah rasa, pada seorang yang tak mengharap kan cinta (?).
"Itu sama bodohnya".

Alunan nada biola rusak kini mengiringi setiap langkah tak tahu arah. Entah aku mau kemana? Yang seringkali kutemui sampai detik ini persimpangan jalan pertanyaan pertanyaan yang belum terjawabkan.
"Entah! Aku pun bertanya".


08 Mei 2023 - 03 Mei 2024


Biar

Bagaimana halnya dengan mereka,
disini hanya aku
barangkali yang bertanya.
"Benarkah? benarkan?".

Meninjau cermat antara
'apa dan kenapa'
menjadi biar,
dibiarkan relung waktu
yang kian menghilang
dibawa kabut tak menghiraukan,
Biarlah, biarkan.



Jum, 10 Mei 2024


Komentar